Friday, October 21, 2022

Survei Populi Center: Mayoritas Warga Jakarta Tidak Percaya Anies Terlibat Dugaan Korupsi Formula E

  


JAKARTA, KOMPAS.com - Populi Center menggelar survei yang hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas warga Jakarta tidak percaya bahwa Anies Baswedan terlibat dalam kasus dugaan korupsi Formula E.

"Masyarakat umumnya tidak percaya jika Anies Baswedan terlibat korupsi Formula E," ujar Peneliti Populi Center Dimas Ramadhan dalam keterangannya, Jumat (21/10/2022).

Dimas memaparkan, hanya 14,3 persen masyarakat yang percaya bahwa Anies terlibat dalam kasus dugaan korupsi Formula E, sedangkan 48,7 persen responden tidak percaya bahwa eks Gubernur DKI Jakarta itu terlibat.

Selain itu, terdapat 33,7 persen responden tidak mengetahui isu tersebut, dan sebesar 3,3 persen responden memilih menolak untuk menjawab.

Dimas menjelaskan, masyarakat Jakarta relatif terbelah dengan isu dugaan korupsi Formula E.

Sebesar 22,8 persen masyarakat menilai terdapat unsur korupsi di dalam kasus Formula E, namun 28,7 persen lainnya menilai tidak ada unsur korupsi. 

"Kemudian sebesar 44,2 persen tidak mengetahui isu tersebut, dan sebesar 4,3 persen memilih menolak untuk menjawab," kata Dimas.

Untuk diketahui, Populi Center menyelenggarakan survei ini di Provinsi DKI Jakarta mulai tanggal 9 hingga 16 Oktober 2022 dengan sampel responden tersebar secara proporsional di 60 kelurahan di Provinsi DKI Jakarta.

Metode pengambilan data dalam survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 600 responden yang dipilih menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error (MoE) +- 4 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

"Survei dilakukan dengan menggunakan pendanaan internal," ucap Dimas.

Legislator PKS Minta Pemerintah Pertimbangkan KLB untuk Kasus Gagal Ginjal Akut

  


Jakarta - Anggota Komisi IX Fraksi PKS DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah untuk mempertimbangkan penetapan KLB (Kejadian Luar Biasa) pada kasus gangguan ginjal akut pada anak. 

"Mengingat banyaknya kasus yang bermunculan sejak beberapa bulan terakhir, opsi penetapan KLB harus juga dipertimbangkan dan mulai dibahas oleh pemerintah," kata Netty dalam keterangan medianya, Jumat (21/10/2022).

Berdasarkan data Kemenkes RI, gangguan ginjal akut pada anak per 18/10/22 sudah mencapai 206 kasus di mana 99 orang telah dinyatakan meninggal dunia.

"Ada dugaan kuat bahwa data riil kasus gangguan ginjal akut pada anak-anak itu lebih banyak lagi. Ini semacam puncak gunung es. Apalagi dengan sistem surveilans kesehatan Indonesia yang masih harus diperbaiki di sana-sini," kata Netty.

Menurut politisi PKS ini, meski demikian, penetapan kondisi KLB untuk kasus gangguan ginjal akut pada anak harus menunggu hasil kerja tim yang dibentuk oleh pemerintah untuk menyelidiki kasus tersebut.

"Saya mendorong agar tim bekerja sigap dan ekstra agar hasilnya segera ada. Baik itu menyangkut penyebab, gejala, upaya penanganan dan lain sebagainya. Sampai saat ini kita masih belum dapat mengungkap banyak terkait kasus gangguan ginjal misterius ini." Ujarnya.

Menurut Netty, penyelidikan harus dipercepat untuk menghindari semakin banyak korban yang berjatuhan.

"Pemerintah harus memberi dukungan maksimal agar tim dapat bekerja menunaikan tugasnya dengan cepat. Ini perkara prioritas yang harus diselesaikan," katanya.

Netty juga meminta pemerintah memastikan kesiapan faskes dan ketersediaan alat dan obat yang dibutuhkan dalam menangani kasus ini.

"Cek apakah faskes dan RS mana saja yang siap menangani jika ada anak bergejala yang datang berobat. Bagaimana dengan ketersediaan alat dan obat penunjang," ungkapnya.

Edukasi dan informasi pada masyarakat juga harus terus digalakkan agar tahu langkah apa yg harus diambil jika menghadapi kasus tersebut.

Thursday, October 20, 2022

Pengadilan Tinggi DKI Putuskan Jokowi dan 3 Menteri Lalai Penuhi Udara Bersih di Jakarta

  


TEMPO.CO, Jakarta - Pengadilan Tinggi Jakarta menguatkan putusan Pengadilan negeri Jakarta Pusat yang menyatakan Presiden RI Joko Widodo, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), dan Menteri Kesehatan (Menkes) melakukan perbuatan melawan hukum dalam penanganan polusi udara.

Penggugat, yaitu 32 warga dalam citizen lawsuit pencemaran udara Jakarta (CLS Udara) berhasil memenangkan perkara gugatan polusi udara di Jakarta setelah Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menguatkan putusan atau vonis Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat dengan nomor 374/PDT.G-LH/2019/PN.JAK.PUS.

Penggugat berasal berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, wiraswasta, karyawan sampai dengan aktivis lingkungan menuntut tujuh tergugat, yaitu Presiden RI, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Jawa Barat, dan Gubernur Banten.

“Kemenangan kembali warga Jakarta atas proses banding gugatan polusi udara ini menguatkan fakta bahwa udara bersih sejatinya adalah kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia sehari-hari warga DKI Jakarta,” kata tim advokasi warga, Jeanny Sirait.

Pada 16 September 2021, kata dia, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan lima dari tujuh tergugat telah melawan hukum dan menghukum para tergugat tersebut untuk menjalankan sembilan poin putusan hakim sebagai upaya untuk mengendalikan pencemaran udara Jakarta.

“Kami mendesak pemerintah untuk tidak lagi mengajukan kasasi atas putusan banding yang dimenangkan warga ini. Bagi warga dan seluruh rakyat Indonesia, ini bukan lagi waktu yang tepat untuk adu kuat dalam proses hukum, kesehatan, dan kekuatan nafas warga Jakarta menjadi taruhannya,” ujarnya.

Daripada melakukan kasasi, kata Jeanny, akan lebih bijaksana jika pemerintah memanfaatkan waktu yang ada untuk segera memastikan berjalannya perbaikan sistem pengendalian udara bersih di Jakarta dengan cepat.

“Tidak boleh lagi ada penundaan. Memastikan standar baku mutu udara (BMUA) yang sesuai WHO, misalnya,” ujarnya.

3 Tahun Jokowi-Ma’ruf, PKS: SDM Kalah Saing dengan Infrastruktur

  


JAKARTA - Tepat hari ini Kamis, 20 Oktober 2022, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin genap berusia tiga tahun. Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera memberikan sejumlah catatan, khususnya sal pembangunan SDM yang tidak begitu mendapat perhatian.

“Kalau kita ikuti 5 targetnya mereka (Jokowi-Ma’ruf) kan pertama SDM. Saya masih melihat SDM kita, baik kapasitas, kualitas dan sistem pendidikan, atau kesiapan untuk masuk ke bursa kerja global masih sangat punya catatan,” kata Mardani saat dihubungi, Rabu (19/10/2022) malam.

Menurut Mardani, perlu ada gebrakan terkait dengan peningkatan SDM bangsa Indonesia. Program Kartu Prakerja dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) baru menyelesaikan urusan dasar tetapi belum bisa menyelesaikan masalah kualitas dan kapasitas SDM.

Untuk itu, Mardani menyarankan agar pembangunan SDM ini perlu menjadi fokus pemerintahan Jokowi di sisa 2 tahun pemerintahannya. Yang terpenting itu adalah bukan membangun Ibu Kota Negara (IKN) baru, tapi membuat pusat-pusat intelektual, pusat-pusat peningkatan SDM, universitas-universitas terbaik, dan Balai Latihan Kerja (BLK) yang baik.

“Dua tahun terakhir pak Jokowi mesti fokus pada SDM, SDM dan SDM. Makannya, catatan lanjutannya catatan besarnya bagaimana, bukan bangun IKN yang utama, tapi bangun pusat-pusat intelektual, center of excellent, pusat pertumbuhan SDM, universitas terbaik, BLK terbaik. Karena kalau mau SDM tapi anggarannya enggak dialokasikan, dialokasikan ke infrastruktur ya enggak pas,” ujarnya.

Padahal, kata Mardani, revolusi mental telah menjadi jargon Jokowi sejak periode pertamanya, tetapi justru ia tidak melihat adanya revolusi tersebut. Terbukti bahwa masalah antrean saja masih belum rapih, bahkan Jokowi sendiri mengkritik pelayanan imigrasi dan perizinan masih berantakan, meski sudah dibantu dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Mardani melanjutkan, masalah aparat penegak hukum yang tersangkut kasus hukum seperti kasus Ferdy Sambo, hakim agung Sudrajat Dimyati, Teddy Minahasa dan sebagainya, bukan merupakan persoalan aparat penegak hukum, tapi masalah kualitas SDM. Itu kesalahan Jokowi sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara.

“Bagaimana bisa menyapu dengan sapu yang kotor. Mestinya kasus-kasus di kepolisian, mulai dari Sambo, hakim agung, itu pukulannya bukan buat penegak hukum, tapi bagi Presiden Jokowi, karena bagaimanapun kepala pemerintahan ya beliau, Presiden Jokowi. Buat saya, beliau betul-betul harus fokus pada SDM,” beber Mardani.

Mardani pun menyayangkan bahwa di sisa pemerintahan periode keduanya, Jokowi masih berambisi untuk menyelesaikan pembangunan IKN. Padahal, legacy yang baik itu adalah perangkat pengetahuan dan karakter, bukan bangunan fisik. “Iya, jadi legacynya legacy fisik, padahal yang dibutuhkan legacy sistem karakter, sistem perangkat knowledge, knowledge system, ini yang belum dirapihkan,” tegasnya.

Selain itu, Anggota Komisi II DPR ini juga menyoroti permasalahan demokrasi dan kebebasan berpendapat. Ia melihat bahwa demokrasi jalan di tempat, bahkan indeks demokrasi Indonesia menurun karena kebijakannya terlalu parsial dan reaktif.

Misalnya saja, muncul unggahan di media sosial (medsos) kemudian sibuk memproses hukum, sehingga pemerintah sibuk dengan hal-hal kecil-kecil, bukan pada penekanan yang sistematis dan fundamental. “Contohnya, mestinya kebebasan berpendapat dibiarkan, kalau ada beda pendapat pak Kapolri sudah bilang restorative justice, tapi kalau ujaran kebencian, lalu kemarin ada yang protes ijazah pak Jokowi tiba-tiba langsung ditangkap karena ada laporan penghinaan agama, kan definisi ITE Pasal 27, 45 itu karet sekali, seharusnya jangan main tangkap-tangkap. Gitu loh,” terangnya.

“Itu malah terbalik citranya, orang yang melaporkan (soal ijazah) pak Jokowi kok ditangkap atas kasus lain, itu kan dianggapnya kriminalisasi kan. Dianggapnya,” imbuh Mardani. Akan tetapi, Mardani mengaku yang paling membuatnya sedih adalah pembiaran yang dilakukan Jokowi.

Korupsi terjadi di mana-mana, seharusnya dicari akar permasalahannya apa. Sementara, Ada 4 penyakit demokrasi Indonesia yakni pertama, high cost politic; kedua, oligarki politik karena ongkos yang mahal maka harus punya bandar; ketiga interlocking (saling mengunci), karena bandarnya sama sehingga tidak bisa berbuat apa-apa; dan keempat, involutif (kemunduran pertumbuhan), akhirnya politik hanya untuk elite. “Yang terjadi ya begitu, makin jauh demokrasi dari rakyat, karena prosedural saja,” ujarnya.

Lebih dari itu, Mardani juga menyoroti masalah otonomi daerah (otda) yang sudah berlangsung sejak reformasi. Masih terjadi disharmoni antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Bahkan, ia mendapat informasi bahwa Gubernur Riau ditolak oleh Bupati Meranti saat ingin melakukan kunjungan. Itu semua terjadi karena gubernur tidak memiliki akar ke bawah maupun cantolah yang kuat di atas, otda berada di bawah para bupati dan wali kota.

Juga soal rentang kendali di sebuah provinsi yang mestinya dipersempit. “Padahal kan harusnya kan orkestrasi yang baik. ini akarnya dimana? saya pernah diskusi di Komisi II, ya ditata ulang otonomi, jangan di tingkat dua, ya di tingkat satu. Jumlah kabupaten/kota di satu provinsi 5-8 saja, biar efektif, jangan 27, 38, 40, 35, kebanyakan, ruang kontrolnya,” usulnya.

Oleh karena itu, Mardani menegaskan bahwa hal-hal fundamental inilah yang mesti dipikirkan dan menjadi tugas dari 2 tahun terakhir pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Jangan justru lebih fokus pada pembangunan gedung-gedung, padahal Jokowi sendiri selalu mengatakan industri 4.0 di mana orang bisa bekerja di mana saja, karena yang terpenting adalah delivery atau penyampaian dan hasilnya.

“Ini yang harus dipikirin, jangan malah bikin gedung, gedung mah enggak kepake nanti. kan pak Jokowi sendiri yang teriak 4.0 kita bisa bekerja di mana saja kapan saja yang penting deliverynya ada. Ada gedung tapi deliverynya enggak ada, ngurus KTP tetep susah, ngurus paspor tetap susah, ngurus macem-macem susah ya buat apa,” tugasnya.

“Banyak lah catatan kita, tapi capek enggak berubah-berubah. Tapi kita oposisi terus, PKS oposisi terus,” tandas Mardani.

Wednesday, October 19, 2022

SDA Jakarta Timur Tambah Dua Poma Mobile Trailer Baru Antisipasi Genangan

 



 Realitarakyat.com – Suku Dinas Sumber Daya Air atau SDA Jakarta Timur menambah dua pompa mobile trailer baru untuk mengantisipasi terjadi genangan air saat musim hujan.

Kasi Pembangunan dan Peningkatan Drainase Sudin SDA Jakarta Timur, Tengku Saugi Zikri mengatakan dua pompa yang berkapasitas 1.000 liter per detik itu sudah diujicoba pada pekan lalu dan berfungsi normal.

Dua unit pompa mobile trailer sudah kita uji coba pekan lalu dan hasilnya sangat bagus. Ini dapat mengatasi genangan saat debit air tinggi dan melimpas ke pemukiman warga,” kata Tengku Saugi Zikri di Jakarta, Rabu (19/10).

Saugi menambahkan dua pompa itu juga masing-masing dilengkapi empat lubang pipa pembuangan berdiameter 25 sentimeter.

“Dua unit pompa itu hasil pengadaan tahun 2022 dengan nilai anggaran Rp6,2 miliar,” ujar Saugi.

Saugi mengatakan kedua pompa itu akan ditempatkan di RW05 Kelurahan Rawa Terate, Cakung dan di RW 16 Komplek Perumahan Cipinang Indah, Cipinang Muara, Jatinegara.

Kedua pompa tersebut disiapkan untuk antisipasi terjadinya genangan saat hujan deras di wilayah tersebut.

Dia mengatakan pompa yang ditempatkan di RW16 Komplek Cipinang Indah untuk antisipasi luapan saluran penghubung (Phb) Sulaeman dari Cipinang Melayu, Makasar yang mengalir ke Kali Cipinang melalui Komplek Cipinang Indah.

Sedangkan pompa diRW 05 Rawa Terate untuk antisipasi jika debit air di Kali Cakung Lama meluap ke pemukiman warga.

PKS Minta Pemerintah Perkuat UMKM Hadapi Ancaman Resesi

 



Untuk menghadapai ancaman terjadi resesi global, pemerintah disarankan memprioritaskan pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Sebab, saat ini tidak cukup jika pemerintah mengandalkan bantuan sosial.

Demikian disampaikan anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati, Rabu (19/10).

Menurut Anis, untuk menghadapi resesi, setelah memberikan Bansos harus diikuti oleh pengelolaan terhadap pelaku usaha UMKM.

"Kita juga harus menggaungkan dunia usaha seperti UMKM,” kata Anis, seperti diberitakan Kantor Berita Politik RMOL.

Pandangan politisi PKS ini, perhatian pemerintah terhadap pelaku UMKM masih kurang. Anis menegaskan bahwa untuk meningkatkan eksistensi pelaku UMKM, pemerintah perlu untuk mengulurkan tangan lebih dahulu kepada para pelaku untuk kemudahan aksesnya.

“Padahal, kalau usaha ekonomi masyarakat ini digerakkan, itu akan menopang secara baik perekonomian Indonesia,” tambahnya.

Anis menilai, pentingnya peran UMKM dalam keberlangsungan ekonomi masyarakat dan merupakan tulang punggung perekonomian, untuk itu pemerintah diminta untuk memberikan kemudahan akses permodalan untuk para penggiat UMKM.

“Kita harus menguatkan UMKM, berikan mereka akses yang lebih banyak, berikan mereka kemudahan pinjaman," pungkas Anis. 

Demikian disampaikan anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati, Rabu (19/10).

Menurut Anis, untuk menghadapi resesi, setelah memberikan Bansos harus diikuti oleh pengelolaan terhadap pelaku usaha UMKM.

"Kita juga harus menggaungkan dunia usaha seperti UMKM,” kata Anis, seperti diberitakan Kantor Berita Politik RMOL.

Pandangan politisi PKS ini, perhatian pemerintah terhadap pelaku UMKM masih kurang. Anis menegaskan bahwa untuk meningkatkan eksistensi pelaku UMKM, pemerintah perlu untuk mengulurkan tangan lebih dahulu kepada para pelaku untuk kemudahan aksesnya.

“Padahal, kalau usaha ekonomi masyarakat ini digerakkan, itu akan menopang secara baik perekonomian Indonesia,” tambahnya.

Anis menilai, pentingnya peran UMKM dalam keberlangsungan ekonomi masyarakat dan merupakan tulang punggung perekonomian, untuk itu pemerintah diminta untuk memberikan kemudahan akses permodalan untuk para penggiat UMKM.

“Kita harus menguatkan UMKM, berikan mereka akses yang lebih banyak, berikan mereka kemudahan pinjaman," pungkas Anis. 

Tuesday, October 18, 2022

Sudin SDA Jaktim Bangun Saluran Air 600 Meter di Duren Sawit untuk Cegah Banjir

  


TEMPO.CO, Jakarta - Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Timur telah memasang box culvert pembangunan persimpangan (crossing) saluran air di Jalan Raden Inten, Duren Sawit.

Kepala Seksi Pembangunan dan Peningkatan Drainase Sudin SDA Jakarta Timur, Tengku Saugi Zikri, mengatakan pemasangan box culvert berukuran 150x150 sentimeter itu dilakukan pada Senin lalu hingga Selasa dini hari kemarin.

Crossing saluran air di Jalan Raden Inten saat ini sudah terpasang delapan meter menggunakan box culvert," kata Tengku Saugi Zikri seperti dikutip dari Antara, Selasa, 18 Oktober 2022. 

Saugi menambahkan pemasangan tahap awal itu dilakukan di sisi utara, jika sudah selesai dilanjutkan di sisi selatan.

Saugi mengatakan pembuatan crossing di Jl Raden Inten itu sedianya dimulai pada 14 Oktober 2022, namun terkendala adanya pipa PAM yang melintang di bawah jalan.

Alhasil, pemasangan box culvert baru bisa dilakukan pada Senin malam. Total panjang crossing di lokasi itu mencapai 62 meter yang terbagi dalam dua sisi, barat dan timur.

Crossing saluran air di Jalan Raden Inten itu nantinya akan dikoneksikan dengan saluran air di Jalan Raya Pendidikan, yang saat ini sedang dibangun ke saluran penghubung (Phb) Jalan Raden Inten. Selanjutnya, akan diteruskan ke Kali Buaran.

Sebelumnya, Suku Dinas SDA Jakarta Timur membangun saluran air untuk mengatasi masalah banjir di Jalan Pendidikan Raya, Kecamatan Duren Sawit.

Pembangunan saluran air itu memiliki panjang total sekitar 600 meter.

Sedangkan untuk saluran air di Jalan Raden Inten itu memiliki panjang mencapai 12 meter dan menggunakan beton U Ditch ukuran 1,5 meter.

Nantinya crossing saluran air itu terhubung ke Kali Buaran untuk mengalirkan air yang menggenang di Jalan Pendidikan Raya saat hujan.

Pekerjaan saluran air tersebut dilakukan secara bertahap agar lalu lintas tetap bisa dilintasi kendaraan.

Wali Kota Resmikan Penggunaan Pintu Air Phb Pondok Bambu

   Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, M. Anwar, menghadiri temu warga RW 011 Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Minggu (12/2/...